Minggu, 28 September 2008

UANG

Uang adalah alat pembayaran yang sah dari suatu negara, uang di Republik tercinta ini kita kenal adalah uang rupiah, bagi sebagian orang uang menjadi segalanya untuk sarana mencapai maksud dan tujuan, sebaliknya bagi mereka yang tidak punya uang, alangkah sulitnya mengarungi kehidupan ini tanpa uang. Perampasan, perampokan, korupsi dan macam-macam kejahatan terjadi dimana-mana karena ingin medapatkan uang.

Dibalik semua itu sering kita melihat nasib lembaran uang rupiah yang disia-siakan, lihat saja pada gambar disamping ini, uang sebagai alat pembayaran yang sah “dikuwel-kuwel” (dilipat tak beraturan) begitu saja sehingga terlihat kumel, dekil dan tampak tidak berharga. Uang lembaran seribuan dan lima ribuan menjadi uang yang paling menderita, karena uang lembaran ini kebanyakan dimiliki oleh golongan paling bawah dan anak-anak.

Padahal kalau kita lihat mata uang asing yang namanya dolar, orang menyimpan dengan begitu rapi, bahkan mereka tidak berani melipat apalagi sampai “dikuwel-kuwel”, karena dolar yang terlipat dan kumel nilai tukar rupiahnya menjadi turun.

Mari kita belajar dari hal yang paling kecil untuk mencintai dan menghargai uang rupiah, seperti kita menghargai dolar, dinar dan uang asing lainnya. Semoga……


13 komentar:

Anonim mengatakan...

waktu awal2 tinggal di sini mbah, aku kaget karena uang2 yang aku lihat saat bayar di toko atau saat dapat kembalian setelah belanja itu masih kayak uang baru, kaku dan bersih, tapi lama kelamaan jadi terbiasa, uang yg di dompetku kebanyakan juga masih kinyis2 padahal banyak yg dari kembalian belanja, apakah ini juga karena pengaruh lingkungan dan budaya orang2nya mbah ?

Anonim mengatakan...

Meskipun kumal kaya apa mbah bahkan sobek, namanya uang tetap ada yang mau. Apalagi yang seratus ribuan, sudah sobek jadi dua tetap saja disambung pake plester dan dibelanjakan.

Mbah Suro mengatakan...

*Mbak Elys : Disiplin harus ditanamkan sejak bayi, seorang ibu bila bayinya nangis langsung saja memberikan ASI, padahal belum tentu bayi itu haus/ lapar dan belum saatnya untuk 'nenen', mungkin ada sebab lain. Ini contoh ketidak disiplinan dalam mendidik anak, termasuk hal menyimpan uang sama sekali tidak pernah diajarkan.

Mbah Suro mengatakan...

*Mas Mufti : Iya juga Mas, namanya uang apapun wujudnya semua orang butuh dan mau sekalipun sobek dan tambalan. Saya melihat disetiap lembaran mata uang ada gambar tokoh dan pahlawan yang perlu dikenang dan diteladani jasanya.
Atau sengaja tidak diajarkan untuk merawat uang rupiah, supaya order cetak uang baru oleh BI lancaaar...
Halaah kok curiga yaa...

Pursito mengatakan...

Makin jauh keberadaan uang dari kita, makin tinggi nilainya, karena kita akan selalu berusaha untuk meraih, semakin dekat dengan kita maka kita kurang menghargai uang, pemanfaatannyapun sering tidak keruan.

Anonim mengatakan...

Aku tak songgo uwang ae mBah.

Anonim mengatakan...

Met Lebaran mbah ... maaf lahir dan bathin

jadi mudik tahun ini apa nggak mbah ?

Mbah Suro mengatakan...

*Eyang Bethoro : Songgo uang? berarti wis kabotan duit, met Lebaran Eyang, sampun supe! wayah-wayah diparingi sangu.

Mbah Suro mengatakan...

*Mbak Elys : Tahun ini saya nggak pulang kampung, rencana nanti bulan Desember sekalian bikin slametan setahun swargi Ibu. Lebaran ini anak-anak yang pulkam, kasihan kena macet di Pantura, Jkt-Cirebon 18 jam, sampai Purworejo sudah subuh, padahal normalnya Jkt-Purworejo 11 jam. Nggak kangen kampung halaman? makanan khas Kudus opo mbak?

Kandar Ag. mengatakan...

Tapi Mbah... uang kucel itu justru uang yang paling "suci" sekaligus sosial, lho! Lihat aja di kotak-kotak amal atau kotak kolekte, hampir semuanya kucel! Hehehe...

Nanging...kula remen dudutanipun.
Eh, kula ugi gadhah refleksi bab dhuwit, Mbah! Uang

Mbah Suro mengatakan...

*Mas Kandar : Betul mas.. apalagi uang amal dari seorang janda miskin, dia bisa mempersembahkan dari kekurangannya.
Bagaimana mas dengan uang amal atau kolekte yang berasal dari hasil korupsi, apakah bisa terlihat bedanya?

Anonim mengatakan...

salam kenal..kita pusing apabila ngga punya uang tapi jangan sombong apabila banyak uang

Unknown mengatakan...

saya atas nama BPK. SAMSUL dari MADURA ingin mengucapkan banyak terimah kasih kepada MBAH KARYO,kalau bukan karna bantuannya munkin sekaran saya sudah terlantar dan tidak pernaah terpikirkan oleh saya kalau saya sdh bisa sesukses ini dan saya tdk menyanka klau MBAH KARYO bisa sehebat ini menembuskan semua no,,jika anda ingin seperti saya silahkan hubungi MBAH KARYO no ini 082301536999 saya yakin anda tdk akan pernah menyesal klau sudah berhubungan dgn MBAH KARYO dan jgn percaya klau ada yg menggunakan pesan ini klau bukan nama BPK. SAMSUL dan bukan nama MBAH KARYO krna itu cuma palsu.m