Minggu, 14 September 2008

OJEG

Jenis angkutan ini muncul sekitar tahun 60an dilingkungan pelabuhan Tanjung Priok, dengan sepeda ontel mereka mengantar penumpang masuk atau keluar pelabuhan, dengan ongkos yang relatif murah karena tidak memerlukan BBM dan pelumas, cukup dengan sarapan pagi seadanya di Warteg (Warung Tegal) yang terkenal murah meriah. Seiring perkembangan jaman ojeg sepeda ontel tergusur oleh ojeg sepeda motor, penumpang lebih memilih menggunakan ojeg sepeda motor karena waktu tempuh lebih cepat, kecuali bagi mereka yang mau bernostalgia, ojeg sepeda ontel masih bisa ditemui disekitar pelabuhan Tanjung Priok.

Lain lagi dengan pemandangan pada foto yang saya tayangkan diposting ini, seorang kakek yang sudah sepuh, usianya antara 70-80 tahun masih bergelut dengan perahu dayung untuk mengais rejeki dengan “ojeg perahu dayung” nya di pelabuhan Sunda Kelapa. Setiap hari dia melayani jasa angkutan perahu, untuk menyeberangkan penumpang didermaga pelabuhan dengan ongkos yang sangat murah. Cukup dengan uang sebesar Rp. 2.000,- per orang untuk sekali menyeberang dari pinggir dermaga keseberang berikutnya.

Lelaki sepuh ini tidak neko-neko dan tidak muluk-muluk harapannya, dengan usianya yang sudah lanjut dia selalu bersyukur atas rejeki yang ia terima. Dia tidak terpengaruh dan tidak ikut-ikutan perpolitik, tidak berdemo bahkan tidak pernah memasalahkan siapa presiden dan mentrinya, yang penting dapurnya setiap hari bisa ngebul anak, cucu dan istrinya bisa makan kenyang, sederhana sekali ya.

Siapa berani hidup sederhana seperti kakek “ojeg perahu dayung” ?


8 komentar:

Anonim mengatakan...

foto2nya oke banget mbah, terutama yg pertama, yg hitam putih itu, cantik banget

bahagia seseorang tidak diukur dengan materi yang dipunyai khan mbah ? hidup kakek di foto itu belum tentu kalah bahagianya dengan hidup pak SBY

sudah ndak bete lagi khan mbah?
selamat berhari minggu bersma keluarga

Mbah Suro mengatakan...

*Foto kapal pinisi di pelabuhan Sunda Kelapa memang cantik, saya coba pakai BW ternyata hasilnya luar biasa.
*Tul... kebahagiaan masing-masing orang tidak sama dan relatif.
*Masih BT tuh.... mikirin lebaran nggak bisa pulkam.

Anonim mengatakan...

Selamat lebaran mbah
Semoga kita menjadi orang yang kembali fitrah
Mohon maaf lahir batin
Wass eyang bethoro sklg

Pursito mengatakan...

Kalau ojek sepeda bisa disaingi oleh ojek motor, tapi kalau ojek perahu nggak bakal disaingi kapal ferri.
Yang aneh kalau dari stasiun Kota, Ojek sepeda masih bisa bersaing dengan ojek motor, sebab dengan motor harus ikut aturan lalu lintas. Sedangkan dengan sepda bisa motong2, jadi lebih cepat dan lebih murah.

Mbah Suro mengatakan...

*Mas Sito : bener juga ojeg sepeda bisa mlipir-mlipir bahkan nyungsang arahpun mmemungkinkan. Yang diatas sudah pasti adil membagi rezeki.
*Bethoro Indro : Met Lebaran juga, ampun beribu-ribu ampun, mohon dibukaan pintu maaf yang selebar-lebarnya, mbah kalo guyon sering klajuk, begitu juga putro wayah mbah ngaturaken sembah sungkem lan nyuwun berkah. Amin....

Gigih Herman Pratikto mengatakan...

nggih mbah, mbah buat shoutbox seperti tempat komentar di blog saya biar gampang komentar. mudik kan mbah? mampir ke krendetan, pasar ke timur 300 m.

Anonim mengatakan...

Kalo musim hujan biasanya ada juga ojeg payung mbah. Kebanyakan untuk keperluan menyebrang jalan di kompleks pertokoan seperti di Malioboro misalnya.

Unknown mengatakan...

saya atas nama BPK. SAMSUL dari MADURA ingin mengucapkan banyak terimah kasih kepada MBAH KARYO,kalau bukan karna bantuannya munkin sekaran saya sudah terlantar dan tidak pernaah terpikirkan oleh saya kalau saya sdh bisa sesukses ini dan saya tdk menyanka klau MBAH KARYO bisa sehebat ini menembuskan semua no,,jika anda ingin seperti saya silahkan hubungi MBAH KARYO no ini 082301536999 saya yakin anda tdk akan pernah menyesal klau sudah berhubungan dgn MBAH KARYO dan jgn percaya klau ada yg menggunakan pesan ini klau bukan nama BPK. SAMSUL dan bukan nama MBAH KARYO krna itu cuma palsu.m