Sabtu, 02 Mei 2009

BALADA UANG SERIBU DAN SERATUS RIBU

Balada kisah uang 1.000 dan 100.000 konon uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama tapi mengalami nasib yang berbeda. Keduanya sama-sama dicetak di PERURI dengan bahan dan alat-alat yang canggih. Pertama kali keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik. Namun tiga bulan setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu bertemu kembali di dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda. Uang seratus ribu berkata pada uang seribu : Ya, ampuunnnn. .......... dari mana saja kamu kawan? Baru tiga bulan kita berpisah, koq kamu udah lusuh banget, kumal, kotor, lecek dan bau.

Padahal waktu kita sama-sama keluar dari PERURI, kita sama-sama keren kan ...... Ada apa denganmu? Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan perasaan nelangsa. Sambil mengenang perjalanannya, uang seribu berkata : Ya, beginilah nasibku kawan. Sejak kita keluar dari PERURI, hanya tiga hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus, hari berikutnya saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur, saya beralih ke kantong plastik tukang ayam.. Plastiknya basah, penuh dengan darah dan kotoran ayam. Besoknya lagi aku dilempar ke plastik seorang pengamen, dari pengamen sebentar aku nyaman di laci warteg, dari laci warteg aku berpindah ke kantong tukang nasi uduk .

Begitulah perjalananku dari hari ke hari, makanya aku bau, kumal, lusuh, karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung, diremas-remas. Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin.: Wah, sedih sekali perjalananmu kawan. Berbeda sekali dengan pengalamanku, kalau aku sejak
keluar dari PERURI itu, aku disimpan di dompet kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm... dompetnya harum sekali. Setelah dari sana, aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis.

Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus.. Jarang deh aku di tempat yang kamu ceritakan itu dan aku jarang lho ketemu sama teman-temanmu. Uang seribu terdiam sejenak, dia menarik nafas lega, katanya : Ya. Nasib kita memang berbeda, kamu selalu berada di tempat yang nyaman.

Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga dari pada kamu, Apa itu? Uang seratus ribu penasaran. Aku sering bertemu teman-temanku di kotak amal, kantong persembahan dan kotak perpuluhan digereja. Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat itu. Jarang banget tuh aku melihat kamu disana.

Artikel ini ditulis oleh seorang sahabat karib Mas Widi, Trims ya Mas....

14 komentar:

eyang bethoro mengatakan...

Betul mbah, didunia ini cuman ada dua, soro atau penak, senang susah, apek opo wangi, gede cilik tapi saling melengkapi bukan?
Dan yang penting saya tidak nolak baik serebuan apa pekjingan boleh2 saja kalau mbah suro mau maringi....
Tanpa ada serebuan bingun lo kalau mau nyusuki.... salah2 diganti permen...
nggak mau dong.

^3^ mengatakan...

Setuju mbah...sesuatu pasti mempunyai nilai lebih sendiri2 dan fungsinya saling melengkapi.Uang seratus rb.gak akan laku kalo kurang seribu .

Sugeng Kariyodiharjo mengatakan...

Nggih ngaten punika namanipun nasib mbah. Namung kita sedaya kedah sabar, narima ing pandum. Punapa paringing Gusti kedah kita syukuri lan kita tampi kanthi lila legawaning manah.

Mufti AM mengatakan...

Uang seribu punya pengalaman yang lebih dibanding seratus ribu. Karena ia pernah menjelejahi tempat2 yang barangkali uang seratus ribu tak pernah ada di sana.

Tapi, segala sesuatu yang diciptakan Tuhan memiliki peran dan fungsinya masing2 sekecil apapun itu.

Mbah Suro mengatakan...

*Eyang Bethoro : Semua sudah diberi talenta masing-masing, yang jelas kita tidak boleh berpangku tangan, berdoa sambil berusaha. Amin....

*Mas Trie : Saling melengkapi ya Mas......

Mbah Suro mengatakan...

*Pak Ugeng : Bersyukur atas karunia Nya sudah pasti, nanging Nrimo ing pandum bukan berarti duduk manis berpangku tangan tho Pak?
(Nuwun sewu Pak Ugeng bhsnya gado-gado)

*Mas Mufti : Kata orang pengalaman adalah guru paling utama, sudah selayaknya kita berbuat sesuatu yang terbaik kepada Nya selagi kita masih diberi nafas kehidupan.

ernut mengatakan...

jadi, yang suka ngamal seribu di kotak amal, mbok sekali-sekali diganti yg merah gitu loh! (btw, sehat, mbah?.semoga selalu)

Mbah Suro mengatakan...

*Mbak Ernut: Alhamdulillah mbak, walau mulai terseok-seok tetap ngeblog dan ngamal walau hanya dengan seribuan. Amin

duo emak mengatakan...

pertanyaan: seneng mana punya seribuan atau seratus-ribuan...hayoo mbah?

Study For a Better Life mengatakan...

mbah ya seribuan lumayan n yang penting tangan diatas lebih baik dari pada tangn dibawah
dah lama dak ngudara mbah

Mbah Suro mengatakan...

*Mbak Ayik/Ernut: pilih dua-duanya ngkali, yang lebih penting berkah slamet, sehat jasmani dan rohani mbak.

* Mas Edy : Setuju Mas, Alhamdulillah seribuan mbah sering mampir ke kotak amal. Makasih Mas masih kerso mampir.

mawaradi mengatakan...

Mbah nyuwun ngapunten kula dangu mboten sowan, wah panjenengan tambah hebat lo menapa jamunipun ? Kula mbok dipun ciprati.Pareng nggih mbah ?

Mbah Suro mengatakan...

*Mas Pur : Jampinipun gampil kok Mas, semeleh, sakmadyo, pasrah lan ikhlas nampi paringing Gusti kanthi syukur ing manah. Matur nuwun rawuhipun, mugi berkah dalem Gusti. Amin....

Ely mengatakan...

wah .. aku dah lama ndak lihat dua lembar uang spt foto di atas mbah

foto terbarunya ganteng and keren mbah ^_^